Jumat, 26 April 2013

SEMAOEN


Kebangkitan komunisme di Indonesia ternyata tak jauh-jauh dari pergerakan Islam. Pergerakan Sarekat Islam yang dimotori HOS Tjokroaminoto, telah menjelma sebagai induk semang bagi founding fathers beragam ideologi. Sebut saja Soekarno sang presiden pertama Indonesia yang menjunjung nasionalisme. Atau silakan tengok SM Kartosoewirjo yang ditaksir sebagai pemberontak NKRI karena hendak mengibarkan panji pemerintahan Islam.

Jangan lupakan pula Semaoen. Tertarik dengan sifat Tjokro yang sosialis, Semaoen bergabung dengan Sarekat Islam cabang Surabaya pada 1914. Menurut penulis An Age in Motion: Popular Radicalism in Java 1912-1926, Takashi Shiraishi, Semaoen belajar kepada Tjokro soal politik dan cara menjadi orator.

Nyatanya, Tjokro bukan satu-satunya mentor Semaoen. Di Surabaya, ia juga menimba ilmu ke Sneevliet. Pertemuan Semaoen dengan Sneevliet terjadi di Surabaya pada awal 1915. Datang ke Surabaya pada 1913, Sneevliet membawa ideologi komunis dari Belanda. Di Surabaya, Sneevliet bekerja di sebuah harian Belanda. Setahun kemudian, ia pindah ke Semarang.

Semarang rupanya menjadi sasaran empuk Sneevliet untuk menyebarkan paham komunisme. Ini terlihat dari ikhtiarnya mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) untuk menyebarkan komunisme di Indonesia. Sneevliet juga aktif menjadi editor surat kabar Serikat Buruh Kereta Api dan Trem (VSTP) di Semarang. Menurut Shiraishi, Semaoen terkesan pada Sneevliet karena tidak bermental kolonial. Pada tahun 1916, Semaoen pindah ke Semarang untuk menjadi propagandis di VSTP tersebut.
Tradisi debat dan selalu bersikap kritis yang melekat pada buruh kereta api menjadikan Semaoen dan Sneevliet dekat secara ideologi. Mereka menjadi elite kaum sosialis berpengaruh di zamannya. VSTP terus dikembangkan menjadi organisasi buruh masif beranggotakan kaum bumiputra dan orang-orang Belanda. Hegemoni tersebut semakin diperkuat dengan posisi Semaoen sebagai Ketua Sarekat Islam Semarang.

Ketika pengaruhnya kian diperhitungkan, lewat media Indie Weerbaar, Semaoen mengkritik keterlibatan SI dalam Volksraad. Semaoen menuduh gerakan Tjokro yang ia nilai kurang garang. Tjokro dihadapkan pada dua pilihan yang dilematis: tetap kooperatif dengan pemerintah Belanda atau membuat pola gerakan menjadi radikal. Di sisi lain, Tjokro tak bisa memungkiri bahwa SI harus tetap tegak dan anti-Belanda.
Semaoen dan Tjokro pada akhirnya berebut pengaruh di SI. Beberapa kali Semaoen melancarkan aksi mogok di kongres. Karena pengaruh Semaoen sudah mengakar, Tjokro memilih kompromi. Semaoen dipilih menjadi komisaris dan propagandis organisasi.

Puncak perselisihan keduanya terjadi pada kongres SI di Surabaya pada 1919. Dalam kongres ini, Tjokro memimpin pengambilan keputusan disiplin partai dan melarang kader partai memiliki organisasi lain. Semaoen, yang saat ini menjadi Ketua Perhimpunan Komunis Indonesia, berang. Semaoen memilih hengkang dan mengubah SI menjadi Sarekat Rakyat.

Pada tahun 1920 Semaoen mengambil alih ISDV dan mengganti namanya menjadi Partai Komunisme Indonesia. Inilah cikal bakal gerakan berhaluan kiri ini mengawali gejolak sepak terjangnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar